Pages

Translate

Wednesday, September 10, 2014

Gangguan Jiwa Sumbernya di Otak, Bukan karena Disantet

Salah satu gejala umum penyakit gangguan jiwa berat seperti skizofrenia adalah halusinasi serta memiliki keyakinan kuat akan sesuatu yang tidak nyata. Oleh karena itu banyak pasien yang dianggap terkena guna-guna, kutukan, atau pun santet. Biasanya pihak keluarga akan langsung membawa pasien skizofrenia ke paranormal.

"Padahal skizofrenia itu penyakit gangguan di otak yang bisa diobati secara medis. Yang terganggu adalah cara berpikirnya sehingga timbul beberapa gejala. Jadi bukan karena kuturan atau santet," kata Dr.A.A Ayu Agung Kusumawardhani, Sp.KJ(K), dalam acara media edukasi menyambut Hari Kesehatan Jiwa Sedunia di Jakarta (9/9/14).
Perayaan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia tahun ini mengambil tema "Living with Schizophrenia" yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman akan pentingnya terapi dini yang tepat bagi orang dengan skizofrenia (ODS), serta mengajak masyarakat untuk memberi dukungan dan menerima ODS agar aktif dan produktif di tengah masyarakat.
Menurut data Riset Kesehatan Dasar 2013, jumlah penduduk yang mengalami gangguan jiwa berat mencapai 1,72 per 1000 penduduk. "Angka tersebut termasuk kecil karena jumlah yang sebenarnya mencapai satu sampai tiga persen," kata Dr.Eka Viora Sp.KJ, Direktur Bina Kesehatan Jiwa Kementrian Kesehatan, dalam acara yang sama.
Dokter Agung menjelaskan, gejala skizofrenia antara lain halusinasi, baik itu mendengar, melihat, atau merasakan hal-hal yang tidak didengar, dilihat, atau dirasakan orang sehat. Gejala lainnya adalah delusi atau waham, yaitu isi pikiran tidak sesuai dengan kenyataan dan tetap yakin meski telah ditunjukkan bukti bahwa isi pikirannya salah. Misalnya seseorang yakin dirinya utusan Tuhan.
"Perjalanan penyakit skizofrenia sebenarnya dimulai sejak usia anak-anak dan di usia remaja mulai timbul gejala. Jika ini bisa dideteksi sejak awal dan juga diintervensi, pasien bisa hidup produktif seperti orang sehat," katanya.
Gejala yang perlu diwaspadai orangtua antara lain anak mengalami penurunan prestasi akademik di sekolah, yang semula ceria jadi pemurung, menarik diri, serta gangguan konsentrasi.
Ditambahkan oleh dr.Agung, kebanyakan ODS sudah terlambat dibawa ke dokter. "Penyakit ini kurang dipahami sehingga biasanya keluarga pasien keliling-keliling dulu mencari 'orang pintar'. Padahal jika tidak segera diobati penyakitnya akan berdampak panjang," ujarnya.
Terapi pengobatan ODS antara lain obat-obatan dan psikoterapi (konseling). Pengobatan diberikan untuk menurunkan gejala skizofrenia, sedangkan konseling dapat membantu pasien memahami, menerima, dan menjalani penyakitnya.
"Obat-obatan biasanya harus terus diminum selama dua tahun. Tujuan dari terapi pengobatan adalah gejala-gejalanya tidak muncul, pasien bisa mandiri dan kembali ke fungsinya," kata dr.Agung.

No comments:

Post a Comment

Gunakan bahasa yang patut, sopan dan santun demi kenyamanan bersama.