Pages

Translate

Monday, August 18, 2014

Anguttara Nikaya

Dalam Anguttara Nikaya, pembagiannya benar-benar merupakan pembagian menurut nomor. Ada sebelas kelompok yang diklasifikasikan (nipata); pokok pembahasan yang pertama merupakan bagian-bagian tunggal, yang diikuti oleh kelompok-kelompok dua dan seterusnya sampai kelompok sebelas. Tiap nipata dibagi dalam vagga-vagga yang masing-masing memuat sepuluh sutta atau lebih, yang seluruhnya berjumlah 2.308 sutta.

1. Ekaka-Nipata. Pikiran-pikiran terpusat/tidak terpusat, terlatih/tidak terlatih, dikembangkan / tidak dikembangkan; usaha, ketekunan, Sang Buddha, Sariputta, Moggallana, Mahakassapa; pandangan-benar/salah; konsentrasi-benar / salah.
2. Duka. Dua jenis kamma vipaka (baik yang membuahkan hasil dalam kehidupan sekarang maupun yang membawa kepada tumimbal lahir), sebab musabab kebaikan dan kejahatan; harapan dan keinginan, keuntungan dan panjang umur; dua jenis dana (dana benda-benda material dan dana Dhamma); dua golongan bhikkhu: mereka yang telah menyelami/belum menyelami Empat Kesunyataan Mulia – mereka yang hidup/tidak hidup dalam keselarasan.
3. Tika. Tiga pelanggaran – jasmani, ucapan dan pikiran; tiga perbuatan yang patut dipuji: kedermawanan, penglepasan, pemeliharaan orang tua; usaha untuk mengendalikan munculnya keadaan-keadaan tidak baik yang belum muncul, mengembangkan keadaan-keadaan baik yang belum muncul, melenyapkan keadaan-keadaan tidak baik yang telah muncul; pandangan-pandangan yang menyimpang dari ajaran: bahwa pengalaman-pengalaman yang menyenangkan dan menyedihkan ataupun yang tidak menyenangkan dan tidak menyedihkan disebabkan oleh perbuatan-perbuatan lampau, bahwa pengalaman-pengalaman ini telah ditentukan, bahwa pengalaman-pengalaman ini tanpa sebab.
4. Catukka. Orang-orang yang tak berdisiplin tidak mempunyai sikap, konsentrasi, pengertian, pembebasan; si dungu menambah cela dengan jalan memuji yang tak patut dipuji, mencela yang patut dihargai, bergembira tatkala orang tidak bergembira, tidak bergembira tatkala orang bergembira; empat jenis orang: tidak bijaksana dan tidak pula beriman, tidak bijaksana tetapi beriman, bijaksana tetapi tidak beriman, bijaksana dan beriman; bhikkhu hendaknya puas dengan jubah, pemberian, tempat tinggal, dan obat-obatan yang mereka miliki; empat jenis kebahagiaan; hidup dalam lingkungan yang sesuai, bergaul dengan orang yang baik, memiliki keinsafan diri, telah mengumpulkan kusalakamma pada kehidupan lampau; empat Brahma Vihara: metta, karuna, mudita, upekkha; empat sifat yang menjaga bhikkhu dari kekeliruan: ketaatan terhadap sila, pengendalian pintu-pintu indria, kesederhanaan dalam makanan, kesadaran penuh yang mantap; empat cara pemusatan diri: untuk mencapai kebahagiaan dalam hidup ini, untuk memperoleh pengetahuan dan pengertian, untuk mencapai kesadaran dan pengendalian diri, untuk menghancurkan kekotoran-kekotoran; empat macam orang yang memupuk kebencian, kemunafikan, keuntungan dan kehormatan selain dari yang berhubungan dengan Dhamma; empat macam pandangan keliru: ketidakkekalan untuk kekekalan, dukkha untuk sukha, tanpa-aku untuk aku, ketidaksucian untuk kesucian; empat kesalahan para pertapa dan brahmana: minum minuman keras yang mengacaukan pikiran, kecanduan pada kenikmatan indria, menerima uang, mencari nafkah dengan cara tercela; empat lapangan dalam kebahagiaan yang membawa pahala: secara benar meyakini Sang Buddha sebagai Yang Maha Mengetahui, Dhamma sebagai yang telah dibabarkan dengan baik, Sangha sebagai yang telah dibentuk dengan baik, para siswa yang bebas dari kekotoran; empat cara hidup bersama: yang jahat dengan yang jahat, yang jahat dengan yang baik, yang baik dengan yang jahat, yang baik dengan yang baik; persembahan makanan memberikan si penerima: hidup dengan usia panjang, kecantikan, kebahagiaan, kekuatan fisik; empat kondisi untuk mencapai kesejahteraan duniawi: usaha yang terus menerus, perlindungan terhadap penghasilan, persahabatan yang baik, penghidupan yang seimbang; empat kondisi untuk mencapai kesejahteraan batin: keyakinan, sila, dana, dan Pañña; empat musuh yang kepadanya metta hendaknya dikembangkan; empat Usaha Benar; Empat Hal Yang Tak Terpikirkan: lingkungan seorang Buddha, jhana-jhana, kamma-vipaka, spekulasi atas asal mula dunia; empat tempat ziarah: ke tempat kelahiran Buddha, tempat mencapai Penerangan, tempat membabarkan khotbah pertama, dan tempat wafat; empat jenis ucapan yang berfaedah/tidak berfaedah: kebenaran/kebohongan, bukan fitnahan/fitnahan, kelembutan/kekasaran, bijaksana/ semberono; empat sifat esential: sila, samadhi, Pañña dan pembebasan; empat kemampuan: keyakinan, kekuatan daya, kesadaran, konsentrasi; empat unsur; empat macam orang yang patut dikenang dengan monumen: Buddha, Paccekka Buddha, Arahat dan para Raja “Pemutar Roda”; para bhikkhu hendaknya tidak mengundurkan diri ke hutan jika menyerah kepada: nafsu, kedengkian, iri hati, atau pikiran tidak sehat.
5. Pancaka. Lima ciri yang baik dari seorang siswa: kehormatan, kesederhanaan, penghindaran diri dari perbuatan-perbuatan tidak baik, kekuatan daya, kebijaksanaan; lima rintangan batin: nafsu indria, kemauan jahat, kemalasan, kegelisahan dan kekuatiran, keragu-raguan; lima obyek meditasi: kekotoran, tanpa-aku, kematian, ketidaksukaan terhadap makanan, ketidakenakan di dunia; lima sifat buruk: tidak bebas dari nafsu, kebencian, khayalan, kemunafikan, dendam; lima perbuatan baik: metta, perbuatan jasmani, ucapan dan pikiran, kepatuhan pada sila dan berpandangan benar.
6. Chakka. Kewajiban rangkap-enam dari seorang bhikkhu: penghindaran diri dari perbuatan (yang menghasilkan kamma), perdebatan, tidur dan berkawan, kerendahan hati dan pergaulan dengan orang bijaksana.
7. Sattaka. Tujuh jenis kekayaan: kehormatan, kelakuan baik, kesederhanaan, penjauhan diri dari perbuatan-perbuatan tidak baik, pengetahuan, penglepasan, kebijaksanaan; tujuh jenis kemelekatan: harapan akan pemberian, kebencian, keyakinan keliru, keragu-raguan, kesombongan, kehidupan duniawi, ketidak tahuan.
8. Atthaka. Delapan sebab kesadaran/pemberian dana/gempa bumi.
9. Navaka. Sembilan perenungan: kekotoran, kematian, ketidaksukaan terhadap makanan, ketidakacuhan terhadap dunia, ketidakkekalan, dukkha yang disebabkan oleh ketidakkekalan, ketidaktampakan dukkha, penglepasan, ketenangan hati; sembilan jenis manusia: mereka yang telah menempuh empat jalan ke Nibbana dan menikmati “buah” bersama puthujjana (manusia biasa yang belum mencapai kesucian); dll.
10. Dasaka. Sepuluh perenungan: ketidakkekalan, tanpa-aku, kematian, ketidaksukaan terhadap makanan, ketidakacuhan terhadap dunia, tulang, dan empat tahap pembusukan mayat – dihinggapi cacing, hitam dengan kerusakan, merekah karena kerusakan, bengkak; sepuluh jenis penyucian: melalui pengetahuan benar, pembebasan benar, dan delapan langkah dari Delapan Jalan Mulia.
11. Ekadasaka. Sebelas jenis kebahagiaan/jalan menuju Nibbana/sifat-sifat baik dan buruk dari seorang penggembala dan bhikkhu.

No comments:

Post a Comment

Gunakan bahasa yang patut, sopan dan santun demi kenyamanan bersama.